Upgrade Diri, Update Hati Di Bulan Suci

Upgrade Diri, Update Hati Di Bulan Suci

PENDAHULUAN

Keutamaan Ramadan dapat diketahui jika kita mencari pengetahuan tentang apa itu Ramadan. Ada banyak source yang dapat digunakan untuk mengakses informasi tentang Ramadan. Buku, majalah, internet,  pengajian dan lain-lain, yang semuanya bisa kita dapati dengan mudah pada saat sekarang ini. Dengan bekal pengetahuan yang cukup, maka amal yang kita lakukan selama Ramadan akan meningkat baik secara qualitas maupun kuantitas. Ada motivasi dan semangat yang menggelora untuk menyatap semua hidangan yang telah Allah sediakan selama satu bulan penuh ini.

Oleh karena itu kita harus melakukan persiapan yang matang maka kita dapat merencanakan dan mengatur strategi bagaimana proses upgrading diri dan updating hati dalam bulan suci ini menjadi maksimal. Allah mewajibkan puasa ini hanya bagi orang-orang yang beriman, karena hanya orang yang berimanlah yang bisa menjalani Ramadan nya dengan sempurna. Hanya orang beriman yang dapat menahan dirinya bukan hanya dari lapar dan haus saja, tapi dari segala sesuatu yang dapat membatalkan pahala puasanya, sebagaimana firman Allah “ Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa “ (QS: Al-baqarah ayat 183) Ibadah puasa adalah ibadah unik, ibadah yang penuh rahasia. Hanya Allah dan hamba Nya saja yang tahu.Tidak seperti ibadah lain yang secara lahir dapat disaksikan oleh mata manusia. Kata Allah semua ibadah itu adalah untuk hambaku, sedang puasa adalah untukku, karena aku yang paling tahu, dan aku yang paling berhak menilainya.

Bulan Ramadan memiliki keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya. Bulan penuh makna yang akan membentuk manusia-manusia dengan spesifikasi High Quality dengan titel muttaqien, dengan cara bagaimana…….. antara lain dengan metode UPGRADE DIRI dan  UPDATE HATI .

 

UPGRADE DIRI

Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya setiap kita tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang kita perturutkan. Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah kepada kita, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang akan mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik (upgrade diri). Tidak jarang seseorang tidak mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan pendapat karena bersikukuh meyakini sesuatu dan tidak mau menerima koreksi. Seperti penolakan para malaikat terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga rasulullah di hari kiamat). Mereka tidak bisa mendatangi al-Haudh dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan, padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada nabi,

إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا

Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” (HR. Ibnu Majah).

Evaluasi diri merupakan perantara untuk muhasabah an-nafs, sedangkan koreksi diri merupakan hasil yang pengaruhnya ditandai dengan sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Diantara sarana yang dapat membantu seseorang untuk mengupgrade diri adalah sebagai berikut:

Pertama, melakukan muhasabah

Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan. Jika hal ini dilakukan, niscaya orang yang melaksanakannya akan beruntung. Bukanlah sebuah aib untuk rujuk kepada kebenaran, karena musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan. Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan, حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ

Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” (HR. Tirmidzi).

Kedua, membuka diri menerima saran orang lain

Bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran  dapat membantu untuk mengevaluasi diri. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ

Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” (HR. Bukhari).

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Ketiga, bersahabat dengan orang yang shalih

Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan seorang yang shalih.

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” (Shahih. HR. Abu Dawud).

Karena itu koreksi diri memang sangat diperlukan walau bagaimanapun kita merasa tidak membutuhkan. Dengan koreksi diri, kita nggak hanya sekedar memberi jeda sebentar kepada diri untuk menata lagi apa yang kurang dari diri kita, namun juga kita belajar melembutkan dan melapangkan hati kita sendiri, serta menjauhkan kita dari rasa sombong berikut dengan dampak-dampak negatifnya.

Setelah melakukan koreksi diri (muhasabah), maka lakukanlah Ishlahun Nafs (perbaikan/upgrade), menata kembali diri kita yang sebelumnya banyak kekurangan dan pelanggaran. Setiap mukmin yang sadar kekurangan dirinya, akan segera memperbaikinya tanpa menunda besok atau lusa. Sebab dia tidak tahu kapan akan mati. Sehingga menunda hal ini adalah suatu yang sangat tercela. Dia khawatir ajal menjemput, sedang dia belum sempat membenahi dirinya dengan ibadah dan ketaatan yang memadai.

Lalu bagaimana cara melakukan upgrade diri itu?, yang pertama hendaknya kita I’tiraf (mengakui) atas kekurangan kita selama ini sehingga kita tidak akan bersikap sombong atau angkuh. Kemudian setelah itu beristighfarlah, meminta ampun kepada Allah, lalu giatlah dalam beribadah dan bermunajat kepadaNya.

Dengan upgrade diri ini, kedudukan kita akan bertambah dekat dengan Allah, bertambah mulia di hadapanNya dan bertambah bersih hati kita. Ketahuilah bahwa hati ini adalah tempat pandangan Rahmat Allah SWT. Allah sangat senang kepada hambanya yang bertaubat dalam rangka Ishlahun Nafs, melebihi kesenangan seorang pengelana yang kehilangan kendaraan dan bekalnya. Sehingga ketika dia telah bersusah payah dan berputus asa dari pencariannya, dia tertidur dibawah sebuah pohon di terik matahari. Dan manakala terbangun, ternyata kendaraan (tunggangan) beserta bekalnya sudah berdiri di hadapannya dengan selamat tanpa kurang sedikit pun. Allah berfirman (yang artinya): ” Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaubat dan mencintai hamba yang membersihkan dirinya ” (QS. Al Baqarah ayat 222)

Hanya mereka yang bersedia terus mengupgrade diri, akan juga memiliki wibawa untuk memperbaiki orang lain, memperbaiki masyarakat, bahkan memperbaiki dunia.  Dan hanya mereka yang terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, akan terus memiliki sumber kekuatan untuk melakukan semua perbaikan itu.  Mestinya Ramadan adalah bulan untuk mengubah cara kita memperbaiki berbagai hal dalam hidup kita, kita sudah memperbaiki koreksi kita, agar Allah memberi kita gelar dengan gelar muttaqin.

UPDATE HATI

Setelah kita meningkatkan kualitas diri dengan cara upgrade diri, kita juga harus tetap menuntut ilmu untuk meningkatkan pengetahuan  memanage hati kita dengan update hati kita. Karena hati adalah pangkal bagi diri ini, seperti disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

 “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”

Sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menunjukan tentang pentingnya kedudukan hati di antara unsur jasmani dan kebendaan lainnya.  Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu yang ikhlas.” (HR. Muslim).  Menurut riwayat dari Abi Sa’id RA, terdapat empat macam hati yang disebutkan oleh baginda Rasulullah SAW.

  1. Qalbun Ajrad (hati yang murni), yaitu hati laksana lentera yang memancarkan cahaya. Hati ini membuka pintu-pintunya untuk mendengar dan menerima kebenaran (alhaq). Itulah hati orang-orang Mukmin yang menjalankan ketaatan kepada Allah dan RasulNya secara konsisten. Jenis hati ini disebut juga sebagai Qalbun Shaleh (hati yang sehat).
  2. Qalbun Aghlaf, hati yang keras dan tertutup untuk menerima kebenaran dan petunjuk dari Allah. Ia disebut juga sebagai Qolbun Mayyit (hati yang mati) karena tidak mengenal dan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Ketika diseru pun ke jalanNya, maka seruan itu tidak berfaedah sama sekali disebabkan hatinya sudah tertutup. (QS. Al-An’am [6]:25). Tidak lain, jenis hati ini adalah hatinya orang-orang kafir.

“.. dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.”

  1. Qalbun Mankus (hati yang terbalik). Yaitu hati orang-orang munafik. Hati ini sebetulnya mengetahui kebenaran Islam sebagai agama samawi, akan tetapi ia berbuat inkar. Bahkan ia memusuhi dan menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti kebenaran tersebut.
  2. Qalbun Mushaffah. Yaitu, hati yang di dalamnya terdapat dua unsur sekaligus, keimanan dan kemunafikan. Kedua unsur ini saling tarik-menarik sehingga terkadang hati tersebut condong dan dekat kepada keimanan dan terkadang kepada kekufuran, tergantung kepada salah satu yang mendominasinya.

Jenis hati ketiga dan kempat ini disebut Qalbun Maridh (hati yang sakit) karena terdapat penyakit atau  virus yang menyerangnya, yaitu berupa fitnah syahwat (nafsu) dan shubhat (sikap ragu) dengan motivasi syaitan yang terkutuk. Dalam Q.S Al Baqarah (2) ayat 10 dijelaskan :    “ dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Masing-masing di antara kita dapat mengetahui secara jujur dan objektif, tipe hati manakah yang sebenarnya kita miliki dari keempat macam hati di atas. Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempunyai tipe hati yang pertama, yaitu hati yang murni dan sehat.

Hati jangan dibiarkan tanpa update berbagai software agar ia makin bersih dan kualitasnya makin rapih, hati tempat pergolakan segala macam hal. Andai semua hal berujung di hati tapi hati tak dikelola dengan benar maka semua yang akan masuk tadi mengakibatkan masalah hingga hidup seseorang berakhir dalam kondisi susah. Rasulullah SAW, bersabda dalam riwayat lain:“Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dalam Hadits ini menjelaskan bahwa hati manusia itu bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksiatan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?

  1. Introspeksi Diri

Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

  1. Perbaiki Diri

Perbaiki diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupaka tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita kan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

  1. Tadabbur Al Qur’an

Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi al Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabbur Qur’an.

  1. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh

Amal shaleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah SWT. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah SAW bersabda, “Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Alloh tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari)

  1. Mengisi Waktu dengan Dzikir

Dzikir adalah ingat atau mengingat. Dzikrulloh artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam dzikir. Pertama, Dzikir Lisan artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan dzikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha ilallah, dll. Kedua Dzikir Amali artinya dzikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah SWT dalam kehidupan. Misalnya jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan dzikir lisan dan dzikir amali.

  1. Bergaul dengan Orang-orang Shaleh

Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll, diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah SWT, dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Karena Allah SWT mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang shaleh.

  1. Berbagi dengan Fakir, Miskin, dan Yatim

Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Abu Hurairah r.a. bercerita bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau SAW menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (HR. Ahmad)

  1. Mengingat Mati

Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengurangi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan menipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah Saw menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening. “Anas r.a mengatakan Rasulullah SAW bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (HR. Hakim)

  1. Menghadiri Majelis Ilmu

Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Allah SWT akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barokah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas. “Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malaikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

  1. Berdo’a kepada Allah SWT

Allah SWT berkuasa untuk membolak-balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu Salamah r.a. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.

Hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi, kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada 10 (sepuluh) cara agar kita memiliki hati yang suci seperti yang tersebut di atas. Mudah-mudahan Allah SWT selalu membari kepada kita hati yang bening. Amiin…

 

PENUTUP

Tidak berlebihan manakala disebutkan bahwa Ramadan merupakan bulan untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Karena segala sarana untuk mendapatkan kesuksesan, semuanya terdapat di bulan ini. Ramadan merupakan sebuah “training” yang akan menghasilkan “sarjana-sarjana” yang bergelar “Muttaqin” antara lain melalui training upgrade diri dan update hati.

 

Rantau, 1 Ramadan 1438 Hijriah

 

Hakim PA. Rantau (Hj.St.Zubaidah, S.Ag.,S.H.,M.H.)

Related Post

Tags:

Leave a Reply