Ketua PA Rantau Tutup Takmir Ramadhan 1438 H

Sebagaimana hari-hari biasa di bulan ramadhan, PA Rantau membuat serangkaian kegiatan yang dikemas dalam acara takmir ramadhan, mulai dari tadarus al-quran, shalat zuhur berjamaah hingga kultum.

Pada Kamis (22/06/2015) merupakan hari terakhir masuk kantor sebelum libur menjelang idul fitri, maka pada hari itu dilaksanakanlah acara penutupan kegiatan takmir ramadhan 1438 H di PA Rantau yang ditutup secara langsung oleh  Ketua PA Rantau Drs. H. Rakhmat Hidayat, HS.,S.H.,M.H. 

Dalam sambutannya, Ketua PA Rantau bersyukur dan berterima kasih kepada Ketua Koordinator pelaksana ibu Hj. St. Zubaidah, S.Ag.,S.H.,M.H. dan juga seluruh karyawan-karyawati Kantor PA Rantau yang telah memakmurkan bulan suci ramadhan dengan berbagai kegiatan religi di dalamnya, “Pertahankan dan laksanakan terus kegiatan ini,” pesan beliau.

Namun sebelum kegiatan ditutup oleh Ketua PA Rantau, diadakanlah acara khataman yang ditandai dengan pembacaan surah-surah khataman Al Qur’an, yaitu surah-surah pendek pada juz 30 mulai surah Adh-Duha dilanjutkan secara bergiliran hingga surah An Naas dan diakhiri dengan doa Khatam Qur’an yang dipimpin oleh H. Muhammad Jati Muharramsyah, S.Ag.,S.H.,M.H. (Wakil Ketua PA Rantau).

 

Acara penutupan takmir ramadhan ini juga diisi dengan kultum yang disampaikan oleh Panitera PA Rantau Drs. Masduki Dalam mau’zatil hasanahnya, beliau mengajak kepada jamaah yang hadir mengambil pelajaran seperti puasanya ular dan puasanya ulat agar pelaksanaan rukun Islam yang ke tiga mencapai derajat taqwa. Di antara sekian banyak puasa hewan yang dapat kita ambil pelajaran agar puasa kita mencapai derajat taqwa, ialah puasanya ular dan puasanya ulat. Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah harus mengganti kulitnya secara berkala. Tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus berpuasa tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya tunai, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru. Pelajaran dari puasanya ular: wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama, nama ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama yakni ular, makanan ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama, cara bergerak sebelum dan sesudah puasa tetap sama, tabiat dan sifat sebelum dan sesudah puasa tetap sama, sedangkan ulat setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kepompong, seekor makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu. Adapun Pelajaran dari puasanya ulat wajah ulat sesudah puasa berubah indah mempesona, nama ulat sesudah puasa berubah menjadi kupu-kupu, makanan ulat sesudah puasa berubah mengisap madu, cara bergerak ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah terbang di awang-awang, tabiat dan sifat berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga.

Menurut beliau jika kita berpuasa dan tidak merubah diri kita lebih baik maka sama saja kita berpuasa dan menggunakan pakaian baru di hari Idul Fitri tetapi sifat dan perbuatan masih sama sehingga kita tidak jauh berbeda dengan seekor ular. Oleh karena itu sama dengan tujuan kita berpuasa di bulan ramadhan dari yang derajatnya iman menjadi derajat taqwa, berubah dari yang jelek menjadi lebih bagus, dari yang biasa jadi luar biasa, itulah hakikat dari perintah Allah SWT. “Selamat hari raya idul fitri 1438 H mohon maaf lahir dan batin”. tutur beliau menutup kultum di bulan ramadhan 1438 H.

 

Konsep. Hj. St. Zubaidah, S. Ag, S.H., M.H.

Editor Oleh TIM IT PA Rantau

Related Post

Leave a Reply